Jumat, 16 Desember 2011

all about us

psikologi 5 D emang anaknya banci kamera semua ya..
mau laki-laki ataupun perempuannya tetep gak mau ketingalan kalo ada kamera..
lagi jenguk temen yang sakit aja sempet-sempetnya foto-foto..
sampai2 orang yang dijenguknya gak kebagian posisi foto..
"huh...kasian tuh hanifah gak kliatan",,

"sini-sini..hanifah ke depan dong.."

"nah kan diliatnya enak,,hehe"

cerita pendek

temen itu emang terkadang bisa bikin kita bahagia, sedih, marah, kesel,,,

bahagia karna selalu ada canda tawa dengan mereka disaat kita sedang mumet mikirin masalah2 baik itu masalah pribadi ataupun masalah tugas kuliah.

sedih kalau mereka lagi lupa sama kita, kalau mereka sibuk dengan urusannya masing2,sudah berpisah dan gak bisa kumpul bersama lagi.

marah kalau mereka sudah berbuat kesalahan besar

kesel kalau mereka gak bisa kerja maksimal jika ada tuntutan kerja kelompok yang mengharuskan adanya kekompakan kerja dalam tim.

pasti!!!

kebahagiaan itu bukan datang dengan sendirinya melainkan didatangkan dari diri kita sendiri,,

kenapa??

karena disaat kita melakukan sesuatu yang bermakna dalam hidup, kita akan mendapatkan balasan yang setimpal yaitu kebahagian

butnobodyisperfect..

fenomenologi

kenapa pandangan atau persepsi tentang suatu peristiwa yang sama bisa berbeda dari satu individu ke individu lain?????

itu karena setiap individu memiliki konsep diri yang telah terbentuk dari pengalaman yang dialami sapanjang hidupnya...

konsep diri menjadi suatu bentuk konstruk personal yang akan terlihat pada saat kapan seorang individu tersebut memiliki suatu sifat di suatu situasi.

so menurut George Kelly,,menusia memiliki konstruk psibadi masing-masing dan tidak ada rumus tetap untuk mengukur kepribadian manusia...


like this dehhh...

Senin, 15 Agustus 2011

Mewujudkan Impian


Semua berawal dari mimpi, semua cita-cita yang kita harapkan letaknya berada dalam mind kita. bagaimana cara kita mengolah semua harapan kita tergantung pada diri kita sendiri, apakah kita ingin semua tercapai?? atau hanya sebagian yang ingin dicapai??? atau bahkan tidak ingin tercapai semua???. apapun itu kita sebagai manusia yang memiliki mind cenderung memiliki kemampuan untuk meraih semua impian-impian itu. Untuk mempermudah kita dalam mencapai impian tersebut ada baiknya kita mengetahui potensi apa yang ada dalam diri kita masing-masing. Mulailah mambuat perbandingan antara apa yang kita inginkan dengan seberapa besar potensi yang kita punya. 

Hal yang perlu kita perhitungkan selanjutnya yaitu bahwa ketika kita sudah merencanakan apa yang akan kita lakukan haruslah meyakini kita pasti bisa dan meyakini bahwa cara yang kita lakukan pasti benar. Dengan bermodal keyakinan dan rencana yang tepat maka akan menghasilkan sesuatu yang istimewa dalam hidup kita,, yaa walaupun semua itu tidak semudah membalikkan tangan. Dalam perjalanan atau proses menuju pencapaian mimpi akan banyak sekali rintangan yang harus kita hadapi. Setiap orang akan memiliki strategi yang berbeda-beda dalam menghadapi rintangan itu tergantung pada system kepribadian orang itu sendiri. 

Orang yang memiliki tipe kepribadian BAS yang dominan ekstrovert akan menghadapi semua masalah dengan sikap yang optimis, dan akan berfokus pada reward yang akan dicapainya, dan punishment yang dimunculkan menurutnya hal itu bukanlah sesuatu yang perlu dikhawatirkan dan ditakutkan justru orang yang ekstrovert (BAS) akan lebih semangat dalam menjalani rintangan-rintangan tersebut. Berbeda dengan orang yang memiliki tipe kepribadian BIS yang dominan memiliki sifat introvert akan menghadapi segala rintangan yang berfokus pada punishment yang harus dilewatinya karena menurutnya punishment itu merupakan hal yang mengganggu kelancaran dia dalam mencapai reward (impian). 

Banyak kekhawatiran yang dirasakan tipe BIS ini ketika ingin mencapai tujuan karena ketika orang ini dihadapkan oleh suatu reward maka ia akan melihat sekelilingnya apakah ada hal yang dapat menghambat atau tidak, jika ada maka dia akan menomor satukan hambatan tersebut ketimbang reward yang akan dia capai pada mulanya. Maksudnya, BIS ini berprinsip bahwa apapun impian yang ia ingin capai maka ia harus berhasil melewati hambatan yang mencoba menghalanginya hal itu akan menjadi sebuah prestasi yang luar biasa (menurut BIS). 

Dari sini kita dapat melihat babarapa sisi baik dari kelebihan maupun dari kekurangan pada masing-masing tipe kepribadian ini. Misalnya, BAS karena terlalu tidak begitu peduli atau menyepelekan dengan punishment yang akan dihadapinya maka biasanya orang ini akan kurang peka terhadap efektif atau tidak efektifnya strategi yang dibuatnya. Dari sini sudah tahu kan, siapa diri kita sebenarnya. Apakah BIS atau BAS???..kalau sudah tahu, pembuatan rencana yang efektif sesuai dengan tipe kepribadian kita yang dapat merealisasikan potensi-potensi kita menuju impian yang telah lama kita inginkan.

#just be your self and positif thinking, good luck#

Jumat, 01 Juli 2011

PENYIMPANGAN KETERTIBAN SOSIAL

I.       PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
         Dalam kehidupan sosial belakangan ini banyak bermunculan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi, baik dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik. Dalam laporan kali ini, akan membahas penyimpangan yang ada dalam kehidupan sosial. Kehidupan sosial akhir-akhir ini telah semakin terlihat banyak sekali penyimpangan yang behubungan dengan semua aspek-aspek kehidupan. Misalnya saja sosial dengan ekonomi, maksudnya yakni jika seseorang melakukan tindakan penyimpangan sosial biasanya orang tersebut melakukannya karena adanya dorongan atau adanya motif ekonomi yang mengharuskan orang tersebut melakukan penyimpangan seperti para pengemudi kendaraan umum demi mendapatkan sejumlah uang maka mereka nekat untuk tidak menaati peraturan lalu lintas yang telah ditetapkan, ada pula seseorang yang rela mencopet demi kelangsugan hidupnya karena bebagai cara telah ia coba.
         Sebenarnya dari semua penjelasan yang telah dijelaskan sebelumnya telah terlihat jelas bahwa laporan ini berisi tentang berbagai penyimpangan, mengapa penyimpangan tersebut terjadi, dan solusi apa yang tepat dalam menangani kasus-kasus tersebut. Tidak hanya itu, latar belakang ditulisnya laporan ini juga adalah untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester I yang dikhususkan bagi para mahasiswa yang mengambil jurusan jurnalistik. Penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada kendaraan-kendaraan umum di kota Jakarta, khususnya yang akan dibahas adalah kendaraan bus kota yang belakangan ini menjadi sorotan dalam pelaksanaan tindak penyimpangan yakni korban dari tindak penyimpangan pungli (pungutang liar) yang dilakukan oleh aparat keamanan Negara itu sendiri. Selain itu, kendaraan umun tersebut juga telah banyak melanggar peraturan lalu lintas yang tejadi di kota.
         Ada lagi istilah dari lawan kata penyimpangan yakni konformitas, yang dimana konformitas itu adalah perilaku yang sesuai dengan harapan kelompok dan sangat erat kaitannya dengan sosialsasi.[1] Konformitas ini karena selalu harus sesuai dengan harapan maka seseorang harus dididik sejak dini agar hasinya sesuai dengan harapan yang ada dalam keluarga maupun dengan kelompok. Namun, dalam laporan ini tidak dimasukkan seutuhnya tentang informasi-informasi yang berhubungan dengan konformitas karena laporan ini lebih mengedepankan penyimpangan-penyimpangan yang telah terjadi khususnya pada kendaraan umum dan aparat keamanan Negara yakni polisi.
2. Teori yang Dipakai
         Dalam laporan yang telah ditulis ini memakai beberapa konsep teori yang ada dalam istilah sosiologi. Teori yang dipakai yaitu teori pembelajaran sosiokultural yakni berkaitan dengan proses-proses bagaimana tindakan-tindakan menyimpang dipelajari dan kondisi-kondisi yang memungkinkan orang mempelajari tindakan itu. Teori ini lebih menekankan kelompok dimana orang-orang bergabung dan bagaimana orang –orang ini mempelajari norma-norma yang dianut kelompok.[2]
         Teori pembelajaran sosiokultural ini telah mempunyai beberapa cabang teori, seperti teori transmisi kultural, teori asosiasi pembedaan, dan teori pembelajaran sosial. Tetapi, dalam laporan saya ini tidak memakai semua cabang teori tersebut dan hanya memakai beberapanya saja. Berisikan yang di antaranya adalah teori transmisi kultural dan teori asosiasi pembeda.
         Teori transmisi kultural merupakan teori yang dapat disebut juga sebagai teori subkultur, dimana adanya penularan penyimpangan yang telah menjadi bagian pola kultur dari subkultur kepada pendatang baru dengan melalui sosialisasi.[3] Dengan melalui interaksi sosial, maka penyimpangan tersebut akan diturunkan kepada pendatang baru. Pendatang baru itu pun akan mengikuti penyimpangan tersebut karena telah menyesuaikan lingkungan bukan karena menyalahi norma dan aturan.
         Teori asosiasi pembedaan yang dikembangkan oleh Edwin Sutherland menyatakan bahwa penyimpangan terjadi ketika individu mempunyai kontak yang lebih intens ke kelompok yang bisa menerima penyimpangan ketimbang ke kelompok yang tidak bias menerimanya.[4]
         Dari teori-teori yang telah disebutkan di atas tentang penyimpangan belum sepenuhnya memuaskan. Jika kita menerima teori pengendalian , maka kita akan melakukan upaya yang membuat orang lebih terikat pada sebuah lembaga dasar masyarakat. Namun, upaya untuk menemukan teori yang sempurna memang sangat sulit. Dari teori-teori inilah kita dapat melihat kenyataan masalah-masalah yang ada dalam kehidupan sosial ini.
         Dengan adanya penyimpangan-penyimpangan, maka akan mucul pula suatu hokum atau peraturan untuk tmencegah terjadinya penyimpangan tersebut.
II.     GAMBARAN LOKASI
         Sebagaimana telah kita ketahui bersama, bahwa keadaan Kota Jakarta akhir-akhir ini telah dipadati kendaraan umum dan pribadi. Namun, kelihatannya kendaraan pribadi lebih mendominasi jalan dan yang paling mendominasi tersebut adalah kendaraan roda dua yakni kendaraan motor yang menjadi penghambat paling signifikan bagi kemajuan dan perkembangan angkutan umum di Ibu Kota Jakarta khususnya angkutan bus kota.
         Dari hasil pengamatan kami pada tanggal 13 Januari 2009 telah terlihat jelas bahwa sebenarnya angkutan bus kota sangat penting peranannya bagi orang-orang yang bekerja di lokasi yang sangat jauh dari tempat tinggalnya dan bagi orang yang tidak mempunyai kendaraan sama sekali, bus kota ini sangat membantu sekali dalam aktivitas sehari-hari. Dalam hal ini, kita tidak dapat memungkiri juga bahwa kendaraan pribadi lebih sangat efisien waktu dan ongkos. Tetapi karena hal inilah, peranan bus kota semakin tertinggal yang akibatnya penumpang semakin sedikit dan yang paling utamanya adalah setoran untuk perusahaan bus tersebut tetap harus berjalan walaupun penumpang sedikit jumlahnya.Dengan tetap berjalannya setoran itu maka berpengaruh terhadap upah-upah bagi para pengemudi bus.
         Bagi seorang Joko Santoso yang biasa dipanggil Mas Joko yang bekerja sebagai pengemudi Patas 67 jurusan Senen-Blok M yang beberapa waktu lalu kami wawancara mengatakan upah seorang pengemudi bus kota tidak sebanding dengan pekerjaannya. Hal tersebut dikarenakan kendaraan bus kota mempunyai banyak saingan yang mengakibatkan menurunnya tingkat penumpang yang menggunakan jasa angkutan ini. Ditambah lagi banyaknya pungutan-pungutan liar yang ada di sepanjang perjalanan Senen sampai Blok M.
         Mas Joko bekerja siang dan malam sebagai pengemudi bus kota. Setiap harinya dia harus datang ke Pondok Gede di Perusahaan Umum Pengangkutan Penumpang Djakarta (PU PPD) Depo “ T ” di daerah Jakarta Timur pada pukul empat pagi untuk mengambil bus yang sudah menjadi jatahnya. Bus yang telah dia bawa disebut bus batangan. Ketika ia sudah di PPD, sebelum beroprasi ia wajib memeriksa kembali bus batangnnya itu. Jika ada kerusakan pada kendaraan tersebut maka Mas Joko dan teman-temannya yang mengalami hal yang sama harus segera menanganinya sebab pihak perusahaan tidak bertanggungjawab dan lepas tangan. Contoh nyatanya saja saat ini telah banyak angkutan bus kota yang penampilannya sudah tidak layak lagi untuk dioprasikan akibat ketidakpedulian dari pihak Perusahaan yang bersangkutan.
         Mas Joko dan para pengemudi lainnya langsung kearah Senen untuk beroprasi. Jalur-jalur yang dilewatinya adalah mulai dari Senen, Salemba, Cikini, Sudirman, Semanggi, Blok M. Dalam peraturannya pengemudi asli atau pengemudi batangan harus menghasilkan delapan putaran dalm sehari tanpa diberikan jatah istirahat dari Perusahaan. Hal tersebut membuat para pengemudi asli berbuat curang untuk  bekerjasama dengan supir tembak dan mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Supir tembak itu adalah pengemudi yang statusnya tidak dianggap sebagai karayawan dalam perusahaan yang bersangkutan. Biasanya yang menjadi supir tembak ini adalah kerabat dekat supir asli yang tidak mempunyai kartu anggota atau kondektur yang sifatnya bergantian dengan pengemudi asli. Namun, namanya juga supir tembak yang tidak ada status karyawan, maka upah biasanya diberikan oleh pengemudi asli atau dari sisa setoran dibagi dua dengan supir tembak.
         Sebenarnya dalam peraturan tertulis yang ada dalam Perusahaan itu tidak boleh menggunakan jasa sopir tembak, jika hal tersebut diketahui oleh pihak pengelola maka pengemudi aslinya akan di berikan sanksi atau bahkan sampai dikeluarkan dari PPD itu. Namun kenyataannya peraturan tersebut tidak terlihat dalam prakteknya dan pihak-pihak Perusahaan yang telah mengetahui kasus tersebut dengan mudahnya tutup mata dan tutup mulut karena telah meminta sejumlah uang dari pengemudi aslinya atau memotong upahnya. Akan tetapi, jika peristiwa tersebut diketahui oleh pihak Polisi maka pihak pengelola akan segera ditangkap. Tetapi walaupun pengemudi aslinya tertangkap karena menggunakan jasa supir tembak tetap saja yang bertanggungjawab supir aslinya, pengelola tidak akan bertanggungjawab.
         Dalam perjalanan, ada pencatat waktu yang bertugas untuk memcatat di setiap putarannya dan mencatat jumlah penumpang setiap armadanya untuk disetorkan ke Perusahaan. Untuk hal ini tidak terjadi penyimpangan karena pencatat waktu tersebut sudah ditetapkan oleh pengelola. Tim pencatat waktu bertugas di daerah Cikini. Di perjalanan menuju terminal Blok M, adanya pungutan liar yang dilakukan oleh aparat keamanan yaitu Polisi. Pada saat itu kami melihat cara kondektur P 67 memberikan uang sebesar Rp 5000 dengan cara dilemparkan ke arah Polisi tersebut. Hal tersebut tidak bisa kesalahan diajukan sepenuhnya kepada Polisi sebab pengemudi bus tersebut telah melanggar peraturan lalu lintas yang semestinya tidak melewati jalan yang pada saat itu ia lewati yaitu melewati jalur cepat yang tidak boleh dilewati bus kota di daerah Semanggi. Akan tetapi peristiwa seperti itu sudah sering kali terjadi dan bahkan bukan hanya pada bus P 67.ternyata hukum di Indonesia ini, dari hukum yang paling ringan sampai yang berat saja bisa di beli dengan lembaran-lembaran uang. Lalu untuk apa peraturan dibuat ?
         Setibanya di terminal Blok M, ada petugas yang yang khusus mencatat waktu lagi tetapi petugas yang ini berasal dari pengelola terminal Blok M. Ketika sampai di pintu keluar terminal, pengemudi diminta pungutan lagi oleh pihak-pihak yang tidak jelas dari lembaga mana yaitu dengan sebutan LLB, pada saat itu pengemudi memberikan sebesar Rp 5000, terkadang jika ada Polisi yang kurang kerjaan ikut meminta pungutan.
         Dalam perjalanan kembali ke Senen, kondisi kota Jakarta sangat semeraut. Apalagi jika ada saingan dari P 67 maka mereka langsung menancapkan gas untuk berlomba-lomba mendapatkan penumpang dan sampai tempat tujuan. Biasanya yang menjadi saingan itu adalah P 67 yang pengemudinya berbeda, P 115 dan masih banyak lagi yang lain. Banyak sekali kendala emosi yang muncul dalam perjalanan misalnya saja kalah cepat dengan saingannya, adanya kendaraan motor yang dengan tiba-tiba menerobos dan menyelip dengan tidak memberikan kode seperti klakson atau lampu sen. Hal tersebut sering kali banyak terjadi kecelakaan. Jika ada kecelakaan pihak Perusahaan baru ikut bertanggungjawab.
         Setibanya di Senen, pengemudi dan kondektur mulai menghitung-hitung pendapatan yang telah didapatnya dalam bekerja selama sehari penuh. Setelah ia memberikan setoran kepada perusahaan, ia mulai membagi-bagidari sisa setoran itu kepada kondektur dan supir tembak yang telah ia pakai. Para pengemudi berkata biasanya uang dari sisa setorang itu ada yang diberikan kekeluarganya dan ada juga yang langsung dibelikan minuman alkohol untuk bermabuk-mabukan dengan pengemudi-pengemudi lainnya.
         Padahal dari pandapatan yang mereka dapatkan sering kali tidak cukup untuk kebutuhan hidupnya. Apalagi jika sudah berkeluarga banyak sekali beban-beban yang harus ditanggung. Pekerjaan ini pun juga sangan berat, disamping pendapatanny yang sedikit ditambah lagi tidak adanya jaminan asuransi kesehatan, maka jika sewaktu-waktu mengalami kecelakaan yang lumayan parah tidak akan mendapat bantuan sama sekali dari pihak Perusahaan.    
III.    ANALISIS ATAS KASUS
1. Kasus-kasus Penyimpangan
         Dari kasus-kasus yang telah terjadi itu dapat kita analisis dengan cara mengetahui teori-teori yang harus kita ketahui terdahulu. Kasus ini sebenarnya sudah bukan lagi berita yang tabuh, namun telah menjadi berita yang sudah biasa diketahui banyak oleh banyak orang. Bahkan saat ini hukum sudah sampai diperjualbelikan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.
         Kasus-kasus tersebut dapat kita bedah yang pertama dengan menggunakan teori pembelajaran sosiokultur, dimana teori ini telah dijelaskan pada bab sebelumnya yang berisi tentang proses-proses dengan bagaimana tindakan-tindakan penyimpangan itu dapat dipelajari. Dari kasus di atas dapat kita lihat bahwa adanya pembelajaran dari setiap idividu dengan semua yang ada di sekitarnya dan melihat sesuatu yang baginya jika terjun dalam hal itu balum tentu dapat disalahkan, karena ia sedang mempelajari suatu proses norma-norma yang ada dilingkungannya tersebut.
         Penyimpangan yang terjadi dalam peristiwa-peristiwa tersebut sering kali sudah dianggap sebagai kehidupannya. Seperti pada saat pergantian dengan supir tembak yang dalam peraturan hal tersebut jelas dilarang tetapi tetap dilakukan. Mengapa hal tersebut terjadi ?. Sesuatu yang terjadi pasti dibalik itu semua ada sesuatu yang melatar belakangi penyimpangan itu terjadi yakni salah satunya tidak adanya jam istirahat yang mengharuskan seseorang bekerja seharian. Maka dengan secara tidak sadar mereka sedang mengalami proses-proses dalam mempelajari penyimpangan itu, karena yang ada dalam pikiran ia hanya bagaimana caranya agar dapat mendapatkan waktu istirahat.
         Jika semua telah mempelajari proses tersebut maka bagi pendatang baru atau orang yang baru pertama kali terlibat dalam kelompok pengemudi bus, maka ia berusaha mempelajari kultur yang sudah ada dalam lingkungan tersebut yang dimana sebenarnya kultur tersebut telah menyimpang dari yang ada. Pendatang baru itu bukan menyalahi norma-norma yang sudah ada, tetapi ikut menyesuaikan diri ke dalam lingkungan yang telah ia pilih. Dari penjelasan tersebut telah jelas bahwa yang dimaksud adalah teori transmisi kultural. Bukan hanya sopir tembak saja yang dimasukkan dalam teori transmisi cultural tetapi termasuk di dalamnya pelanggaran lalu lintas dan polisi yang selalu meminta pungutan liar dalam setiap penjagaan disetiap titik-titik jalan.
         Jika lingkungan pengemudi terdahulu telah biasa melakukan pelanggaran lalu lintas, maka bagi pendatang baru ikut menyasuaikannya karena untuk mengejar besarnya setoran. Hal tersebut dapat mempengaruhi proses dalam mengambil suatu tindakan. Dapat dihubungkan dengan teori asosiasi pembedaan yang dimana penyimpangan dapat masuk kedalam kelompok yang bisa menerima penyimpangan tersebut dan tidak dapat masuk ke dalam kelompok yang tidak bisa menerima.[5] Maksudnya adalah yang bisa menerima penyimpangan tersebut hanya kelompok tertentu saja yang juga melakukan penyimpangan sama, jika ia masuk ke dalam kelompok yang tidak pernah melakukan penyimpangan maka ia tidak akan diterima keberadaanya. Apabila kasus polisi yang selalu melakukan pungutan liar terhadap beberapa kendaraan itu suatu tindakan yang dimana polisi tersebut melakukannya karena proses pada saat pelatihan, ia selalu memperhatikan polisi-polisi sebelumnya telah melakukan hal-hal seperti itu dan akibatnya kegiatan seperti itu terbawa sampai ia bertugas. Ia mencoba beradaptasi dengan lingkungannya yang menerima penyimpangan tersebut, serta diperkuat lagi dengan adanya setoran kepada Komandannya pada setiap titik-titik jalan, yang dimana setoran itu selalu ditetapkan besaran jumlahnya namun ada juga yang tidak diberlakukannya penetapan besaran setoran dan itu pula yang menjadi hukum tidak berjalan dengan semestinya. Bagaimana bisa berjalan dengan semestinya, aparat keamanan Negara pun ikut melanggarnya.
2. Persepsi Masyarakat Tentang Ketertiban Sosial
         Perkembangan persepsi masyarakat tentang ketertiban sosial sejalan dengan perkembangan masyarakat itu sendiri. Persepsi masyarakat tradisional yang pada umumnya merupakan masyarakat agraris, berbeda dengan masyarakat modern atau masyarakat industry. Bagi masyarakat tradisional, ketertiban sosial diartikan lebih luas jika dibandingkan dengan masyarakat modern.
         Persepsi tentang ketertiban sosial dari masyarakat tradisional diungkapkan melalui pandangannya tentang pelanggaran hukum adat. Pelanggaran hukum adat atau delik adat itu marupakan adanya perbuatan sepihak yang oleh pihak lain dengan tegas atau secara diam-diam dinyatakan sebagai perbuatan yang mengganggu keseimbangan.[6] Malalui definisi tentang delik adat tersebut , tampak bahwa ukuran bagi suatu ketertiban sosial terletak  pada gangguan terhadap keseimbangan masyarakat, baik yang mengakibatkan keguncangan kecil maupun keguncangan besar. Menurut Vollenhoven menyatakan bahwa yang dimaksud dengan delik adat adalah perbuatan yang tidak boleh dilakukan, walaupun dalam kenyataannya peristiwa atau perbuatan tersebut hanya merupakan sumbangan yang kecil saja.(dikutip dari Hilman Hadikusuma, 1979)  
         Pada masyarakat modern, persepsi tentang ketertiban sosial selalu dikaitkan dengan peraturan perundangan. Ukuran untuk menentukan ada tidaknya gangguan terhadap ketertiban sosial adalah seberapa banyak pelanggaran yang terjadi atas peraturan perundangan.[7] Dalam hukum pidana tinggi rendahnya ketertiban sosial diukur dari berapa banyak kasus pidana yang dicatat dan diajukan ke pengadilan atau beberapa kasus pidana yang dicatat dalam lembaga pemasyarakatan.Meskipun demikian, ketertiban sosial sebagaimana diuraikan di atas belum dapat mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Hal ini disebabkan masih banyak lagi jumlah kejadian kejahatan dalam masyarakat yang tidak dilaporkan atau dicatat oleh kepolisian atau masih banyak lagi jumlah kejadian kejahatan yang dicatat di kepolisian atau kejaksaan yang tidak diteruskan ke pengadilan.
         Perbedaan yang mendasar dari kedua perspektif ketertiban sosial diatas adalah bahwa pada masyarakat tradisional, reaksi masyarakat pada gangguan atas keseimbangan dalam masyarakat bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan itu sendiri. Oleh karena itu, masyarakat tradisional , apabila seseorang melakukan pelanggaran sehingga kebudayaan masyarakat menjadi tidak seimbang, tidak hanya orang itu dikenai tindakan tetapi juga kaum krabatnya ikut bertanggungjawab.[8]
         Pada masyarakat modern , reaksi Negara terhadap pelanggaran hukum yang telah dilakukan seseorang bertujuan untuk melindungi kepentingan masyarakat yang lebih besar dan sekaligus mencegah orang lain melakukan pelanggaran hukum  yang sama. Tujuan Negara terhadap pelaku kejahatn adalah untuk mendidik dan membina pelaku yang bersangkutan.
IV.    KESIMPULAN
         Dari penjelasa-penjelasan yang sebelumnya dibahas pada bab sebelumnya, terdapat banyak teori-teori yang dipakai dalam menganalisis kasus yang ada dalam laporan ini yaitu teori pembelajaran sosiokultural yang terdapat di dalamnya cabang dari teori ini yakni teori transmisi kultural dan teori asosiasi pembedaan. Pada laporan ini banyak ditemukan kasus-kasus yang sudah tidak asing lagi dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahkan sampai ada seorang aparat yang juga melanggar sebuah peraturan.
         Teori-teori yang dipakai dalam menganalisis kasus ini ada kaitannya dengan teori Parsons tentang tindakan menusia dan masyarakat. Yang dimana Teori ini memperkenalkan empat subsistem dari sistem umum tindakan menusia, masing-masing adalah organism, personality, sistem sosial dan sistem kultural. Keempat sistem ini sebagai suatu susunan mekanisme yang saling berkaitan untuk mengendalikan tindakan menusia.[9] Keterkaitan tersebut menyebabkan timbulnya suatu tindakan dari manusia dalam bentuk penyimpangan maupun konformitas (sesuai dengan harapan kelompok).
         Skema                                                     Ultimate reality
                                                                         Cultural subsistem of action
         General sistem of action                         Sosial subsistem of action
                                                                         Personality subsistem of action
                                                                         Behavioural organism subsistem
                                                                         Physico-organic world
         Dari skema ini dapat kita simpulkan bahwa dalam subsistem kultural yang hanya mengandung unsur-unsur simbiolik pengetahuan, ide, dan kepercayaan, kurang energy tetapi kaya informasi. Oleh karena itu, melalui informasi dan interaksi yang banyak terdapat padanya. Subsistem kultural mengarahkan dan memberi makna kepada tindakan manusia.[10] 
         Dalam laporan ini juga telah menginformasikan tetang beberapa perspektif ketertiban sosial oleh dua masyarakat yang tradisional dan yang modern. Perbedaan perspektif itu muncul karena adanya pandangan yang berbeda-beda. Daripada itu hukum di Tanah Air ini banyak sekali penyimpangan di dalamnya.     


          
           


[1] Yusron Razak, (ed.), Sosiologi Sebuah  Pengantar, (Jakarta : Laboratorium Sosiologi Agama, 2008),h. 203.
[2] Yusron Razak, (ed.), Sosiologi Sebuah  Pengantar, (Jakarta : Laboratorium Sosiologi Agama, 2008),h. 208.

[3] Yusron Razak, (ed.), Sosiologi Sebuah  Pengantar, (Jakarta : Laboratorium Sosiologi Agama, 2008),h. 208.
[4] Yusron Razak, (ed.), Sosiologi Sebuah  Pengantar, (Jakarta : Laboratorium Sosiologi Agama, 2008),h. 209.

[5] Yusron Razak, (ed.), Sosiologi Sebuah  Pengantar, (Jakarta : Laboratorium Sosiologi Agama, 2008),h. 209.

[6] Romli Atmasasmita, Teori dan Kapita Selekta KTIMINOLOGI, (Jakarta : PT Refika Aditama, edisi revisi ), h. 137
[7] Romli Atmasasmita, Teori dan Kapita Selekta KTIMINOLOGI, (Jakarta : PT Refika Aditama, edisi revisi ), h. 137.
[8] Romli Atmasasmita, Teori dan Kapita Selekta KTIMINOLOGI, (Jakarta : PT Refika Aditama, edisi revisi ), h. 138.
[9] Ankie M.M.Hoogvelt,Sosiologi Masyarakat Sedang Berkembang,(Jakarta:CV Rajawali, 1985),h. 26.
[10] Ankie M.M.Hoogvelt,Sosiologi Masyarakat Sedang Berkembang,(Jakarta:CV Rajawali, 1985),h. 27.

Jumat, 24 Juni 2011

Perkambangan Neonatus

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN NEONATAL

 

      Sebelum membahas tentang neonatal  secara lebih mendalam, kita sebaiknya mengetahui apa yang dimaksud dengan neonatal itu sendiri. Adapun berbagai definisi neonatal, adalah:

1.    Menurut Hurlock dalam Psikologi Perkembangan, fase neonatal adalah  suatu periode yang mencakup dua minggu pertama dari kehidupan, yaitu waktu yang dibutuhkan bayi untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru di luar rahim ibu,
2.    Menurut Chaplin dalam Kamus Besar Psikologi, fase neonatal adalah fase di mana seorang bayi baru lahir.
3.    Menurut Olds, London, & Ladewig, periode pasca kelahiran (postpartal period) ialah suatu periode setelah kelahiran bayi atau persalinan. Ini adalah masa di mana si ibu menyesuaikan diri, baik secara fisik maupun psikologis dalam proses pengasuhan anak. Periode ini berlangsung kira-kira selama 6 minggu atau hingga tubuh menyelesaikan penyesuaian dirinya dan kembali ke keadaan yang mirip dengan sebelum kehamilan.
4.      Empat minggu pertama dari kehidupan, periode neonatal (neonatal period), merupakan waktu transisi dari rahim di mana janin didukung sepenuhnya oleh ibu, ke keberadaan mandiri.[1]
Dari beberapa definisi di atas, dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa neonatal adalah suatu periode perkembangan yang terjadi ketika seorang bayi baru dilahirkan yang berlangsung sekita dua hingga enam minggu setelah kelahiran di mana terdapat berbagai penyesuaian baik secara fisik maupun psikologis yang dialami oleh ibu dan bayinya.

2.2 TAHAPAN PERKEMBANGAN MASA NEONATAL


Menurut Hurlock dalam  Psikologi Perkembangan, perkembangan masa bayi baru lahir (Neonate) dibagi menjadi 2 tahapan, yaitu :


1.    Periode Partunate, suatu periode yang dimulai dari saat kelahiran sampai 15 dan 30 menit setelah kelahiran.
2.    Periode Neonate, suatu periode yang dimulai dari pemotongan dan pengikatan tali pusar sampai sekitar akhir minggu kedua dari kehidiupan pascamatur.

2.3. CIRI- CIRI MASA NEONATAL


Setiap periode perkembangan kehidupan manusia selalu ditandai dengan gejala- gejala atau ciri- ciri tertentu yang membedakan suatu periode dengan periode yang lainnya. Adapun beberapa ciri- ciri tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
1.   Merupakan suatu periode yang tersingkat dari semua periode perkembangan, yakni  dari kelahiran sampai tali pusar lepas dari pusarnya
2.   Suatu periode  dimana terjadi suatu penyesuaian yang radikal. Hal ini  terjadi karena peralihan dari lingkungan dalam ke lingkungan luar.
3.   Suatu periode dumatan terhentinya perkembangan. Ketika periode pranatal sedang berkembang tiba-tiba terhenti pada kelahiran.
4.   Merupakan pendahuluan dari perkembangan selanjutnya. Perkembangan individu di masa depan akan tampak pada waktu dilahirkan .
5.   Merupakan suatu periode yang berbahaya karena sulitnya menyesuaikan diri pada lingkungan yang baru.[2]  

2.4. BERBAGAI PENYESUAIAN PADA MASA NEONATAL


Periode neonatal merupakan suatu peralihan dari lingkungan dalam ke lingkungan luar. (Hurlock, 1998) Seperti halnya suatu masa peralihan, terdapat beberapa penyesuaian yang harus dilakukan demi menjaga kelangsungan perkembangan di masa yang akan datang. Penyesuaian pada masa neonatal ini akan dibagi ke dalam dua aspek, yaitu  aspek orangtua, terutama ibu dan bayinya. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut.
  
A. Penyesuaian  yang Dilakukan Oleh Bayi
Karena terjadinya suatu perubahan yang radikal dari lingkungan dalam ke lingkungan luar, bayi neonatal harus melakukan penyesuaian agar kehidupan mereka tidak terancam.  Menurut Hurlock, terdapat empat penyesuaian yang harus dilakukan oleh bayi neonatal. Adapu empat penyesuaian tersebut adalah:

1.   Perubahan suhu, dimana ketika didalam rahim suhu berkisar 1000 F, namun suhu diluar berkisar 600 sampai 700 F
2.   Bernapas, jika tali pusar diputus maka bayi mulai harus menapas serndiri.
3.   Mengisap dan menelan, jadi bayi sudah tidak lagi mendapat makanan melalui tali pusar tetapi memperoleh makanan dengan cara mengisap dan menelan
4.   Pembuangan, ketika bayi dilahirkan barulah alat-alat pembuangan itu berfungsi.

Indikasi Umum tentang Kesulitan Menyesuaikan Kehidupan Setelah Kelahiran,
1.     Berkurangnya berat badan
2.     Perilaku yang tidak teratur
3.     Kematian pada bayi

B. Penyesuaian yang Dilakukan oleh Ibu
Pada periode pasca kelahiran, seorang ibu banyak sekali melakukan penyesuaian dan pembiasaan diri. (Coleman, 1991)  Menurut Santrock dalam Perkembangan Masa Hidup, Seorang ibu harus melakukan beberapa penyesuaian baik secara fisik maupun psikologis.Adapun beberapa penyesuaian yang dilakukan oleh seorang ibu pada periode ini adalah:
·           Penyesuaian Fisik
1.    kelelahan
2.    Involusi (proses dimana peranakan mulai kembali ke ukuran sebelum kehamilan 5 atau 6 minggu setelah kelahiran)
3.    Perubahan hormon yang mencakup penurunan esterogen dan progesteron yang dramatis
4.    Pertimbangan kapan memulai hubungan seksual kembali
5.    partipasi olahraga untuk pulih kembali ke kontur tubuh dan kekuatan sebelumnya


·           Penyesuaian Emosi dan Psikologis
Bebarapa tanda yang dapat menunjukkan kebutuhan akan konseling profesional tentang penyesuaian pascamelahirkan (Simkin, Whalley, & Kepler, 1984):
1.    kecemasan yang berlebihan
2.    depresi
3.    perubahan selera makan
4.    serangan tangis
5.    sulit tidur
      Gejala- gejala tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu perubahan hormon, kurangnya pengalaman, kurangnya rasa percaya diri dengan bayi yang baru lahir, atau kurangnya waktu atau tuntutan lain yang terjadi dalam perawatan bayi. Kerjasama seorang ayah sangat diperlukan dalam merawat bayinya. Hal ini bertujuan agar bayi dapat berkembang baik secara fisik maupun psikologis.
       Penyesuaian lain bagi ibu dan ayah adalah pembagian waktu dan pikiran yang dihabiskan sebagai orang tua yang berkompeten bagi bayi kecil, khususnya ikatan  (bonding) yang dapat merangsang interaksi antara ibu dan bayinya.
       Bagi beberapa ibu, naik turunnya emosi adalah aspek kecil dan akan hilang setelah beberapa minggu; bagi ibu- ibu yang lain, naik turunnya emosi dapat berlangsung lama.

2.5. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYESUAIAN PADA MASA NEONATAL


1.     Lingkungan pranatal, Apabila pada waktu dilingkungan pranatal tidak di rawat oleh ibunya sehingga dilingkungan pascanatal mempengaruhi perkembangannya.
2.     Jenis persalinan, mudah atau sulitnya persalinan mempengaruhi penyesuaian pascanatal.
3.     Pengalaman yang berhubungan dengan persalinan, ada dua pengalaman yang berpengaruh besar pada penyesuaian pascanatal,yaitu seberapa jauh ibu terpengaruh oleh obat-obatan dan mudah sullitnya bayi bernapas.
4.     Lamanya periode kehamilan, jika bayi yang dilahirkan sebelum waktunya di sebut premature, sedangkan yang terlambat disebut postmatur. Abortus : bayi lahir dengan berat badan kurang dari 500 g, dan / atau usia gestasi kurang dari 20 minggu. Angka harapan hidup amat sangat kecil, kurang dari 1%.
5.    Sikap Orang tua, sikap yang menyenangkan dari orang tua memperlakukan bayinya itu akan mendorong penyesuaian yang baik.
6.     Perawatan pascanatal, yaitu ada tiga aspek : pertama kebutuhan tubuh, kedua rangsangan yang diberikan.dan ketiga kepercayaan orang tua. [3]

2.6. CIRI- CIRI BAYI NEONATAL


A.     Berat Badan Bayi Baru Lahir (Birthweight)
Berat badan bayi pada saat kelahiran, ditimbang dalam waktu satu jam sesudah lahir.
1.    Bayi berat lahir cukup : bayi dengan berat lahir > 2500 g.
2.    Bayi berat lahir rendah (BBLR) / Low birthweight infant : bayi dengan berat badan lahir kurang dari 1500 - 2500 g.
3.    Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) / Very low birthweight infant : bayi dengan berat badan lahir 1000 - 1500 g.
4.    Bayi berat lahir amat sangat rendah (BBLASR) / Extremely very low birthweight infant : bayi lahir hidup dengan berat badan lahir kurang dari 1000 g.
Dengan terpisahnya bayi dari ibu, maka terjadilah awal proses fisiologik sebagai berikut:
1.    Peredaran darah melalui plasenta digantikan oleh aktifnya fungsi paru untuk bernafas (pertukaran oksigen dengan karbondioksida).
2.    Saluran cerna berfungsi untuk menyerap makanan.
3.    Ginjal berfungsi untuk mengeluarkan bahan yang tidak terpakai lagi oleh tubuh untuk mempertahankan homeostasis kimia darah.
4.    Hati berfungsi untuk menetralisasi dan mengekresi bahan racun yang tidak diperlukan badan.
5.    Sistem imunologik berfungsi untuk mencegah infeksi.

B.    Perkembangan Fisik

Bayi sangat berbeda dalam penampilan dan fungsi-fungsi fisiologisnya pada saat dilahirkan dan dalam penyesuaian awal setelah lahir.

Ukuran dan Penampilan
Menurut Papalia, ada beberapa ciri- ciri khusus mengenai ukuran pada bayi neonatal. Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut;
1.    Berat bayi rata-rata 7.5 pon dan panjangnya rata-rata 19.5 inci.
2.    Pada janin yang lebih aktif perbandingan berat badan dan tinggi lebih kecil dibandingkan dengan janin yang tidak terlampau aktif dalam akhir periode janin.
3.    Pada umumnya bayi laki-laki lebih panjang dan lebih berat daripada bayi perempuan.
4.    Terdapat perbedaan indivudial yang mencolok antara bayi laki-laki dan perempuan.

Anggota Tubuh Bayi
Neonatus memiliki karakteristik khas, termasuk kepala berukuran besar (seperempat dari panjang tubuh) dan dagu yang menonjol ke belakang (memudahkan proses menyusui). Awalnya, kepala neonatus mungkin berbentuk panjang dan aneh karena “molding” yang memudahkan bayi melewati panggul ibunya. Molding sementara ini dimungkinkan karena tulang tengkorak bayi belum mengeras; tulang-tulang tengkorak ini baru akan menyatu pada usia 18 bulan. Titik-titik di mana tulang belum menyatu – titik lembut (fontanels) --- ditutupi oleh jaringan kuat.
Selain itu Otot-otot bayi yang baru lahir umumnya halus, kecil, dan tidak terkendali. Pada saat dilahirkan hanya sedikit perkembangan otot leher dan lengan. Tulang, seperti halnya otot, juga halus dan lentur. Karena begitu lunaknya, tulang-tulangnya mudah retak atau patah. Kulitnya halus dan gampang terkena bisul. Dagingnya kuat dan elastic.
Banyak bayi baru lahir yang memiliki kulit merah muda; kulit mereka sangat tipis sehingga memperlihatkan pembuluh di mana darah mengalir. Selama beberapa hari pertama, beberapa neonatus sangat berambut karena beberapa lanugo, rambut lebat masa prenatal belum rontok. Semua bayi baru lahir diselimuti verniks kaseosa (lapisan seperti keju), minyak pelindung infeksi yang mengering dalam beberapa hari pertama
Kulit bayi putih menjadi lebih terang karena pertumbuhannya lebih lama, sedangkan yang bukan putih menjadi lebih gelap warnanya. Seringkali terdapat rambut-rambut halus di kepala dan di punggung tetapi di punggung akan segera hilang.
Mata bayi kulit putih biasanya berwarna abu-abu kebiruan meskipun lambat laun akan berubah menjadi warna yang tetap. Bayi dengan kulit gelap mempunyai warna hitam cokelat, tetapi warna ini juga akan berubah menjagi semakin gelap.
Diantara setiap 2000 anak yang lahir telah terdapat satu bayi yang mempunyai gigi pada saat dilahirkan, tetapi giginya tergolong gigi “bayi” dan biasanya gigi seri tengah bawah.

Proposi Fisik
Bayi yang baru lahir bukanlah miniature orang dewasa.(Hurlock, 2006) Adapun beberapa ciri proporsi fisik pada bayi yang baru lahir adalah sebagai berikut:
1.    Kepalanya kira-kira seperempat dari panjang tubuh; kepala orang dewasa kira-kira sepertujuh dari panjang tubuh.
2.    Daerah tengkorak, daerah diatas mata perbandingannya lebih besar daripada bagian kepala lainnya, sedangkan dagu merupkan bagian yang sangat kecil.
3.    Ukuran mata sangat sempurna.
4.    Hidung sangat kecil dan hampir rata.
5.    Mulut yang kecil kelihatannya seperti celah kalau bibirnya sempit.
6.    Lehernya sangat pendek sehingga hampir tidak terlihat, dan kulit leher biasanya tebal atau berlipat-lipat.
7.    Bahu sempit sedangkan perut besar buncit. Lengan dan tungkai bayi sangat pendek dibandingkan kepala dan badan.
8.    Tangan dan kakinya kecil.[4]

C.   Fungsi Biologis
Sebelum lahir, peredaran darah, pernapasan, pencernaan, pembuangan kotoran & pengaturan suhu tubuh dilakukan melalui tubuh ibu. Setelah lahir, semua sistem dan fungsi tubuh bayi harus beroperasi sendiri. Sebagian besar proses transisi ini berlangsung selama 4 sampai 6 minggu pertama setelah kelahiran (Ferber & Makhoul, 2004)
Tiga atau empat hari setelah kelahiran, sekitar setengah dari jumlah bayi yang dilahirkan (dan lebih banyak lagi untuk bayi yang dilahirkan prematur) mengalami jaundis neonatal (neonatal jaundice): kulit dan bola mata mereka tampak kuning. Jaundis seperti ini disebabkan oleh ketiidakmatangan hati. Biasanya kondisi ini tidak serius, tidak membutuhkan perawatan dan efek jangka panjang. Namun karena bayi di

AS yang sehat biasanya pulang ke rumah dalam jangka waktu 48 jam atau kurang setelah kelahiran, jaundice dapat muncul secara tidak disadari dan dapat menyebabkan komplikasi ( AAP Committee on Quality Improvement, 2002).
Selain itu, bayi neonatal tidak mampu mempertahankan keseimbangan (homeostatis) karena susunan syaraf otonom, belum berkembang pada waktu dilahirkan, Dengan tangisan bayi pada waktu dilahirkan, paru-paru dipompa dan pernapasan dimulai. Banyaknya pernapasan pada mulanya berkisar antara empat puluh sampai empat puluh lima gerakan pernapasan setiap menit pada akhir minggu pertama,  biasanya menurun sampai kira-kira tiga puluh lima setiap menit dan lebih stabil daripada permulaan.
Denyut jantung bayi yang baru lahir lebih cepat daridapa denyut jantung orang dewasa karena jantung bayi lebih kecil daripada pembuluh nadi. Kalau pergerakan tubuh dibatasi dengan membungkus tubuh bayi, maka denyut jantung akan menjadi lebih stabil. Akibatnya bayi lebih tenang, tidur lebih banyak dan mempunyai denyut jantung lebih rendah. Pada bayi yang sehat, suhu bayi lebih tinggi dan lebih banyak berubah daripada orang dewasa.
Gerakan reflex berupa mengisap terjadi bila bayi merasa lapar atau bila bibirnya disentuh. Terjadi juga peningkatan dalam mengisap dan jumlah makanan yang dihabiskan setiap harinya, sebagian disebabkan karena pematangan dan sebagian karena hasil belajar.
Pembuangan kotoran mulai beberapa jam setelah lahir. Buang air terjadi pada saat terjaga dan bila bayi dalam keadaan tenang, biasanya dalam satu jam setelah makan.

D. Keadaan Arousal

Bayi memiliki jam biologis yang mengatur siklus harian makan, tidur, pembuangan, bahkan mungkin mood mereka. Siklus periodik terjaga, tidur, dan aktivitas ini yang mengatur keadaan arousal (state of arousal) mereka, atau tingkat dari kewaspadaan sepertinya merupakan kemampuan bawaan dan berbeda untuk masing-masing individu. Perubahan kondisi diatur oleh beberapa area di otak dan disertai perubahan dalam fungsi hampir semua sistem tubuh (Ingersoll & Thoman, 1999).
Kebanyakan bayi yang baru lahir menghabiskan 75% dari waktu mereka – mencapai 18 jam sehari—untuk tidur, tetapi terjaga setiap 3 sampai 4 jam sekali, siang dan malam, untuk menyusu (Ferber & Makhoul, 2004;Hoban, 2004).
Tidur bayi baru lahir bervariasi antara tidur tenang (reguler) dan aktif (irregular). Tidur aktif kemungkinan serupa dengan tidur rapid eye movement (REM) yang pada orang dewasa berkaitan dengan mimpi. Tidur aktif muncul secara ritmis di siklus sekitar satu jam dan mencakup 50% dari waktu tidur keseluruhan bayi baru lahir. Jumlah tidur REM menurun menjadi 30% dari waktu tidur siang hari pada usia 3 tahun dan terus menerus menurun secara stabil sepanjang hidup (Hoban,2004).

E. Kemampuan Sensorik Dini

Otak yang sedang berkembang memungkinkan bayi yang baru lahir untuk mengetahui secara cukup baik apa yang mereka sentuh, lihat, rasa, cium, kecap, dan dengar; dan kemampuan inderawi mereka berkembang pesat di bulan-bulan pertama kehidupan

1.    Sentuhan dan Rasa Sakit
Sentuhan tampaknya adalah indra pertama yang berkembang. Tanda-tanda awal dari refleks roofting terjadi dua bulan setelah konsepsi. Pada usia kehamilan 32 minggu, semua anggota tubuh sensitif terhadap sentuhan (Haith, 1986).
Di masa lalu, dokter yang melakukan operasi terhadap bayi yang baru lahir sering kali tidak menggunakan obat bius karena memiliki kepercayaan yang salah bahwa neonatus tidak dapat meerasakan sakit atau hanya merasakannya sebentar. Kenyataanya, bahkan saat hari pertama kehidupannya, bayi baru lahir dapat dan benar merasakan sakit; dan mereka menjadi lebih sensitif terhadap rasa sakit selama beberaoa hari setelah itu. American Academy of Pediatrics dan Canadian Pediatric Society (2000).

2.    Pembau dan Pengecap
      Indra pembau dan pengecapan juga mulai berkembang di dalam rahim. Rasa dan bau dari makanan yang dikonsumsi oleh calon ibu dapat berpindah ke bayinya melalui cairan amniotik (Mennela & Beauchamp, 1996b).
      Preferensi terhadap aroma menyenangkan tampaknya dipelajari sejak dalam rahim dan selama beberapa hari setelah kelahiran, dan bau dipindahkan dari ASI dapat berkontribusi terhadap proses belajar ini (Bartoshuk & Beauchamp, 1994). Bayi usia 6 hari yang diberi ASI oleh ibunya memilih bau alas menyusui ibunya dibandingkan dengan alas dari perempuan menyusui yang lain, tetapi bayi berusia dua hari tidak

memiliki preferensi, membuktikan bahwa bayi membutuhkan waktu beberapa hari untuk mempelajari bau ibunya (Macfarlane, 1975).
      Preferensi terhadap rasa tertentu tampaknya memang merupakan faktor bawaan (Bartoshuk & Beauchamp, 1994). Bayi baru lahir lebih memilih rasa manis dibandingkan asam atau pahit (Haith, 1986). Air yang diberi gula menenangkan bayi yang sedang menangis, apakah bayi tersebut cukup bulan atau 2 sampai  3 minggu prematur – bukti bahwa mekanisme yang memproduksi efek menenangkan ini berfungsi sebelum periode normal (B. A. Smith & Blass, 1996). Pembawaan memiliki “gigi manis” dapat membantu bayi beradaptasi dengan dunia di luar rahim sebab ASI rasanya manis (Harris, 1997). Penolakkan bayi baru lahir terhadap rasa pahit barangkali adalah salah satu jenis mekanisme pertahanan diri, karena banyak zat pahit yang beracun (Bartoshuck & Beauchamp, 1994).
      Prefernsi terhadap rasa berkembang di masa bayi dapat bertahan hingga masa anak-anak awal. Dalam satu penelitian, anak usia 4 dan 5 tahun yang saat bayi diberikan berbagai jenis makanan yang berbeda memiliki preferensi terhadap makanan yang berbeda-beda (Mennela & Beaucham, 2002).

3.    Pendengaran
      Pendengaran juga berfungsi sebelum melahirkan. Seperti yang telah kita bicarakan di Bab 3, bayi kurang dari 3 hari berespons secara berbeda terhadap cerita yang diperdengarkan saat ia berada dalam kandungan dengan cerita lain; dapat membedakan suara ibu dengan suara orang tidak dikenal; dan memilih bahasa asli dibandingkan bahasa asing (DeCasper & Fifer, 1980;DeCasper & Spence, 1986;C, Moon, Cooper, dan Fifer, 1993). Pengenalan dini terhadap suara dan bahasa yang terdengar di rahim dapat menjadikan dasar bagi hubungan yang baik antara orang tua dan anak.
      Diskriminasi auditori berkembang pesat setelah kelahiran. Bayi usia tiga hari dapat membedakan bunyi kata baru dengan yang mereka sudah dengar sebelumnya ( L. R. Brody, Zelaco, dan Chaika, 1984). Pada usia 1 bulan, bayi dapat membedakan suara ba dan pa (Eimas, Siqueland, Juscyzk, dan Vigorito, 1971).
      Karena pendengaran adalah kunci dari perkembangan bahasa, gangguan pendengaran harus diidentifikasi sedini mungkin. Kehilangan pendengaran pada 1 dari 3 orang dari 1000 kelahiran hidup dan jika tidak diperiksa, dapat mengakibatkan

hambatan perkembangan (Gaffney et al., 2003). Di antara 10.372 bayi yang dilahirkan di honolulu selama periode lima tahun, pemeriksaan pendengaran dalam jangka waktu tiga hari pertama dan diikuti oleh alat bantu dengar dan terapi aural sebelum 6 bulan untuk mereka yang menemukan bahwa mereka mempunyai masalah pendengaran dapat membantu mereka mencapai taraf normal dalam berbicara dan berbahasa (Mason & Herrman)

F. Aktivitas Bayi

Gerakan bayi tampak segera setelah janin keluar dari tubuh ibu. Kaarena belum matangnya kondisi neurofisiologis bayi, tidak dapat diharapkan bahwa gerakan-gerakannya terkoordinasi atau berarti. Gerakan-gerakannya juga tidak berhubungan dengan kejadian-kejadian di lingkungan atau bawah kendali bayi. Ini adalah salah satu sebab dari ketidakberdayaan bayi yang baru lahir.
Meskipun gerakan bayi bersifat acak dan tidak berarti, namun secara kasar dapat digolongkan ke dalam dua kategori umum, yaitu:
§  Aktivitas Menyeluruh
Kegiatan menyeluruh terjadi di seluruh tubuh bila salah satu bagian tubuh dirangsangsekalipun kegiatan yang paling menonjol terjadi pada daerah yang dirangsang. Biasanya, aktivitas menyeluruh semakin meningkat dan semakin terjadi dari hari ke hari. Kegiatan menyeluruh berbeda-beda dalam satu hari. Kegiatan terbesar biasanya terjadi di pagi hari ketika bayi diistirahatkan setelah tidur yang relatif lama dan paling sedikit di siang hari ketika bayi mungkin lelah karena dimandikan dan dikenakan pakaian pada pagi harinya.
Pengalaman-pemngalaman pranatal pada saat dilahirkan memengaruhi kegiatan bayi. Bati-bayi yang sngat giat pada waktu janin cenderung juga sangat aktif selama periode neonatal. Persalian yang lama dan sulit atau ibu yang banyak dipengaruhi obat-obatan dapat menyebabkan bayi relatif kurang aktif selama hari-hari pertama. Bayi yang dilahirkan melalui pembedahan caesar biasanya juga kurang aktif.
§  Aktivitas Khusus
 Aktivitas khusus meliputi bagian tubuh tertentu. Aktivitas ini terdiri dari:
·         Gerak Refleks
Gerakan ini merupakan tanggapan yang tepat terhadap rangsang indera khusus dan tidak berubah dengan pengulangan rangsang yang sama. Kebanyakan

gerakan refleksif tubuh yang penting, seperti gerak mata, bibir dan lidah, mengisap, ketegangan otot, sentakan lutut, bersin dll sudah ada pada saat bayi dilahirkan. Gerak refleks yang pertama muncul mempunayai nilai hidup yang jelas. Geraka refleks yang lain tampak beberapa jam atau beberapa hari setelah kelahiran. Melalui latihan, gerak refleks menjadi semakin kuat.
·         Tanggapan Umum
Tanggapan umum menggunakan kelompok otot yang lebih besar daripada otot-otot yang terlibat dalam refleks-relfleks dan yang dapat dibangkitkan rangsangan dari luar maupun dari dalam. Beberapa tanggapan umum yang tampak selama periode neonatal berupa penglihatan yang menatap pada, gerakan mata yang spontan; cucuran air mata; tanggapan yang berhubungan dengan makan sperti gerakan lidah, pipi, dan bibir; mengisap jari; menguap; tersedak; gerakan mulut yang berirama; mengerutkan kening dan alis, menggerakkan dan mengangkat kepala; menggerakkan tubuh; menghentakkan tubuh; gerakan tangan dan lengan; menendang-menendang; gerakan tungkai dan kaki. Semua gerakan ini tidak terkoordinasi, tidak terumus dan tidak bertujuan. Meskipun demikian gerakan ini penting karena merupakan dasar bagi perkembangan gerakan yang sangat terkoordinasi dan termpil sebagai hasil dari proses belajar

 

2. 7. BAHAYA PADA BAYI NEONATAL

  
1.   Bahaya fisik, seperti lingkungan pranatal yang tidak baik, persalinan yang sulit dan ruwet, kelahiran kembar, postmatur, premature dan kematian bayi
2.   Bahaya psikologis, seperti kepercayaan tradisional mengenai kelahiran, ketidakberdayaan, individualitas bayi, terhentinya perkembangan bayi, kurangnya rangsanagn,kemurungan orang tua baru, dan sikap yang kurang menyenangkan dari orang-orang yang berarti.[5]


2.8. EFEK SAKIT  PADA  MASA NEONATAL

      
       Fase neonatal adalah fase yang sangat rawan akan hubungan ibu dan bayi. Karena kegagalan relasi pada masa ini akan memberi dampak pada tahap berikutnya. Kebutuhan psikologi fase ini melipurti tiga hal penting yaitu seeing (memandang), touching (sentuhan), dan caretaking (merawat dengan perhatian seluruh emosinya). Dengan demikian kesempatan ibu kontak mata dan menyentuh serta melakukan sendiri dalam mengganti popok adalah menjadi prioritas dalam intervensi perawat.
Penyakit atau kecacatan pada anak mempengaruhi terbinanya hubungan saling percaya antara anak dengan orangtua. Penyakit pada anak dapat membuat harapan orangtua menurun, penyakit sering mengakibatkan gangguan dalam kemampuan motorik anak, keterbatasan gerak di tempat tidur dan berkurangnya kontak bayi dengan lingkungan. Intervensi keperawatan sangat penting untuk membantu keluarga dalam menghadapi bayi yang sakit. Keberadaan perawat yang selalu siap membantu sangat penting untuk menenangkan orangtua terhadap rasa ketidak berdayaannya.[6]

2.9 POLA MAKAN BAYI BARU LAHIR


Selama 40 minggu masa kehamilan ibu hamil tentunya telah belajar bagaimana cara merawat bayi baru lahir. Pada saat proses melahirkan ibu mulai pada ambang batas antara menjadi ibu hamil atau menjadi seorang ibu yang mempunyai bayi baru lahir. Dengan penanganan yang tepat, bayi baru lahir dapat tumbuh sehat dan memiliki tingkat imunitas terhadap penyakit yang optimal.
Pada awal kelahiran bayi, ibu mungkin terusik dengan tangisan bayi dengan interval jam tertentu dalam 24 jam. Memang pada bulan pertama kelahirannya bayi sering menangis dan biasanya rasa lapar merupakan penyebab utama kenapa bayi sering menangis. Tangisan karena rasa lapar ini sebetulnya perlu ibu syukuri karena dengan ini ibu diingatkan oleh bayi bahwa ibu harus segera menyusuinya karena ancaman penyakit kuning akibat bayi kurang asupan makanan menghantui ibu menyusui di masa ini.
Sebab lain kenapa bayi menangis sewaktu merasa lapar ialah bayi yang baru lahir tidak terbiasa dengan sensasi lapar yang dirasakannya. Sensasi lapar ini menusuk perutnya dan sangat berbeda kondisinya ketika bayi masih berada di dalam kandungan
yang terbiasa menelan air ketuban. Bayi sering merasa lapar karena memang pada saat bayi baru lahir, lambung bayi belum terbiasa menampung makanan dalam jumlah yang besar. Asupan makanan berupa ASI maupun susu formula ini baru bisa dia serap dengan jangka waktu 2 jam atau kurang setelah itu bayi akan merasa lapar kembali. Terkait dengan hal ini sebetulnya pemberian ASI kepada bayi setiap 2 jam sekali itu merupakan hal yang dianjurkan oleh ahli kesehatan di dunia. Perlu ibu ingat bahwa keadaan ibu dan bayi lainnya mungkin berbeda. Karena hal inilah sebaiknya ibu memberi ASI kepada bayi sesering mungkin mengingat ada juga bayi yang tidak menangis walaupun dia merasa lapar. Akibatnya akan terjadi kasus bayi kuning dan bayi perlu perawatan khusus agar pertumbuhannya tetap optimal.

2.10. REAKSI EMOSIONAL PENERIMAAN KELUARGA


Pada neonatus yang menderita sakit, maka keluarga akan merasa cemas, tidak berdaya, dan lain sebagainya yang merupakan reaksi keluarga terhadap kenyataan bahwa bayinya menderita suatu penyakit. Berikut adalah reaksi emosional penerimaan keluarga terhadap neonatus sakit dan bagaimana perawat mengatasi hal tersebut :

A.   Denial. Respon perawat terhadap penolakan adalah komponen untuk kebutuhan individu yang kontinyu sebagai mekanisme pertahanan. Dukungan metode efektif adalah mendengarkan secara aktif. Diam atau tidak ada reinforcement bukanlah suatu penolakan. Diam dapat diinterpretasikan salah, keefektifan diam dan mendengar haruslah sejalan dengan konsentrasi fisik dan mental. Penggunaan bahasa tubuh dalam berkomunikasi harus concern. Kontak mata, sentuhan, postur tubuh, cara duduk dapat digunakan saat diam sehingga komunikasi berjalan efektif.
B.   Rasa bersalah. Merupakan respon biasa dan dapat menyebabkan kecemasan keluarga. Mereka sering mengatakan bahwa merekalah yang menjadi penyebab bayinya mengalami kondisi sakit. Amati ekspresi bersalah, dimana ekspresi tersebut akan membuat mereka lebih terbuka untuk menyatakan perasaannya.
C.   Marah. Merupakan suatu reaksi yang sulit diterima dan sulit ditangani secara therapeutik. Aturan dasar untuk menolak marah seseorang adalah hindari gagalnya kemarahan dan dorong untuk marah secara assertif.


[1] Papalia.Old. Fieldman. 2008. Human Development. Mc. Graw Hill International. Edisi ke- 8. Hal. 155
[2] Hurlock, B Elizabeth. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Hidup. Jakarta: PT Glora Aksara Pratama. Edisi ke- 5. Hal.52
[3]  Hurlock, B Elizabeth. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Hidup. Jakarta: PT Glora Aksara Pratama. Edisi ke- 5. Hal. 56
[4]   Hurlock, B Elizabeth. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Hidup. Jakarta: PT Glora Aksara Pratama. Edisi ke- 5. Hal. 60

[5]  Hurlock, B Elizabeth. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Hidup. Jakarta: PT Glora Aksara Pratama. Edisi ke- 5. Hal. 64


[6] Hurlock, B Elizabeth. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Hidup. Jakarta: PT Glora Aksara Pratama. Edisi ke- 5. Hal. 54
·         Santrock, John W. 2006. Perkembangan Masa Hidup . Jakarta: PT Erlangga. Edisi ke-5.jilid 1.